oleh

Warga Resah, Harga Cabe Rawit di Polman Ikut Melonjak

POLMAN- Lonjakan harga cabe rawit mulai terjadi pada sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dalam sebulan, harga cabe rawit telah beberapa kali mengalami kenaikan.

“Naiknya kan bertahap, kira-kira ada satu bulan tapi bertahap. Mulai dari (harga) 15, 20, 30, 40 akhirnya sampai begini 65 ribu rupiah per kilogram, bertahap tidak sekaligus,“ ujar salah satu pedagang di Pasar Induk Kecamatan Wonomulyo, Kasian, kepada Paceko.com grup Siberindo.co, Senin siang (22/03/2021).

Menurut Kasian, lonjakan harga cabe rawit yang dianggap semakin pedis, dipicu beberapa faktor.

Baca Juga  Terekam CCTV Mencuri di Toko Retail, Pemuda Mamuju Diringkus Polisi Saat Tertidur

“Gara-garanya karena buah kurang, kalaupun ada tapi rusak, apalagi ada bencana yang melanda daerah penghasil cabe seperti di Majene,“ bebernya.

Selanjutnya kata dia, terjadinya persaingan antar sesama pedagang, juga menyebabkan naiknya harga cabe rawit.

“Persaingannya kalau kita beli, dia kasih naik, kalau kita tidak kasih naik, kita tidak dapat lombok (cabe rawit). Kalau kita beli misalnya 50, dia kasih naik, jadi kalau kita tidak naikkan, kita tidak dapat apa-apa, mereka juga sistem borong semua, kalau mereka mahal kita harus ikuti. Kita harus ikut harga mereka,” keluh Kasian.

Baca Juga  Prabowo Berkomitmen Tuntaskan Masalah Pupuk Jika Presiden 2024

Ia juga mengaku, lonjakan harga membuat keberadaan cabe rawit susah didapatkan.

“Barangnya sekarang susah, biasanya kalau panen bisa dapat sekwintal, sekarang susah karena rusak, Banjir dan tidak ada buahnya. Dulu saya jual (cabe rawit, red) bisa sampai satu kuintal, sekarang hanya 20 sampai 30 kilogram saja,“ ungkap Kasian sembari tertawa.

Untuk mensiasati lonjakan harga dan sulitnya mendapatkan cabe rawit, Kasian mengaku terpaksa menjual cabe rawit kering dengan harga yang lebih terjangkau.

Baca Juga  8000 Ton Cangkang Kelapa Sawit Sulbar Diekspor ke Thailand

“Dulu saya jual cabe rawit kering ke Makassar, sekarang tidak lagi karena kasihan pembeli,” tandasnya.

Salah seorang warga, Yanti mengaku resah dengan terjadinya kenaikan harga cabe rawit. Ia berharap pemerintah melakukan upaya untuk menstabilkan harga, yang diperkirakan bisa terus terjadi hingga jelang ramadhan nanti.

“Turunkan dong (harga), kita sangat terbebani, lombok (cabe rawit) mahal sekali harganya, kita susah kalau mahal,” pinta Yanti. (thaya/sur)

Komentar

News Feed