Pandemi Covid-19 yang telah mewabah sejak Maret 2020 diberbagai negara termasuk di Indonesia membawa dampak buruk bagi masyarakat dunia karena berimbas pendapatan keuangan terlebih masyarakat di Sulawesi Barat.
Oleh : Abdul Hafid
Imbauan pemerintah untuk menekan tingkat penyebaran virus Corona dengan menjaga jarak bahkan memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sebuah pilihan yang tak bisa dielakkan.
Namun Pandemi Covid 19 yang sudah melesukan geliat perekonomian masyarakat di dunia ini bukanlah sesuatu yang membatasi ruang gerak interaksi untuk mencapai sebuah keberhasilan dengan usaha baru sambil bekerja dari rumah.
Banyak cara bisa dilakukan untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi keluarga asalkan dilakukan dengan sepenuh jiwa dan semangat ingin berubah menyambuat kehidupan baru.
Tak ada rotan akar pun jadi. Pepatah ini bisa disematkan pada Awaluddin, salah salah satu jurnalis yang ada di Mamuju. Kesehariannya, aktif merekam, mendokumentasikan segala bentuk peristiwa dan berinteraksi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan fakta kongkrit guna diolah menjadi naskah berita di media tempatnya bekerja.
Namun di masa Pandemi ia mengharuskannya untuk menjaga jarak dan mengurangi segala bentuk aktifitas yang berkaitan dengan profesinya yang telah ditekuninya hampir selama empat tahun terakhir dan mencoba menerawang peluang baru di masa new normal.
Tak patah semangat untuk tetap mencari reski yang halal, bagi istri dan anaknya, pria yang akrab disapa Awal oleh rekan seprofesinya itu mengisi waktu luang di tengah Pandemi Covid19 dengan beternak bebek, tepatnya di Desa Bonde-bonde, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene. Sulawesi Barat.
Pria kelahiran Tolangi Juli 1986 silam dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemanusian itu beralasan, bahwa memilih beternak bebek sebuah langkah yang tepat untuk bangkit, sekaligus memberi contoh bagi masyarakat sekitarnya bahwa setiap kesusahan pasti ada jalan keluarnya.
Menurut awal, beternak bebeknya di Desa Bonde-bonde sangat cocok apalagi pakannya seperti dedak, jagung dan sagu sangat mendukung dan mudah didapatkan di lingkungan sekitar.
Pakan yang murah meriah tersebut katanya dengan penuh keyakinan memilki kandungan gizi yang tinggi bagi ternak bebek dan bisa mendongkrak produksi telur.”Pakan seperti sangat membantu karena tidak perlu banyak mengeluarkan biasa,” ujarnya penuh semengat.
Dalam merintis usaha ternaknya, pemuda yang telah memiliki dua orang anak itu pun memulai beternak dengan bermodalkan hanya 10 ekor bebek dewasa yang telah siap bertelur, delapan ekor betina dan dua ekor jantan, hal itu dilakukan sebagai uji coba.
Seiring dengan terus berkembangnya usaha peternakannya, Ia pun mulai mengambil langkah baru, dengan menambah jumlah ekor bebek, hal itu dilakukan untuk mendokrak produksi telur.
“Setelah komunikasi dengan keluarga, akhirnya saya memutuskan memesan 400 ekor dari Makassar yang masih umur seminggu yang harganya Rp.9.000 per ekor,” tutur Awal penuh semangat, Jumat 13 November 2020.
Usia bebeknya telah berumur 3 bulan lebih, ia juga sudah memiliki target-target dalam rangka memasarkan produksi telur. Bahkan ia yakin permintaan masyarakat di Kecamatan Tubo bakal meningkat karena harganya lebih terjangkau dibandingkan produksi telur bebek dari luar daerah.
“Untuk sasaran pasarnya nantinya, seperti pedagang di pasar, dan penjual martabak juga untuk sasaran produksi telur asin,” yakinnya. (hfd/sam)











Komentar