oleh

ISPA, Penyakit Tertinggi Diderita Para Pengungsi

MAMUJU – Tiga pekan di pengungsian, warga yang terkena penyakit semakin bertambah. Bukan hanya covid, tapi juga ISPA yang ternyata penyakit terbanyak yang diderita para pengungsi.

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat menyebutkan, hingga hari Rabu 10 Februari 2021, sebanyak 4.048 warga pengungsi terkena penyakit. Di Kabupaten Mamuju sebanyak 2.669 orang dan 1.379 orang di Kabupaten Majene.

Dikutip dari mamujupos.com group siberindo.co, Dari jumlah itu ISPA atau Infeksi Sistem Pernafasan Akut menduduki peringkat tertinggi. Dengan mencapai total 1.110 penderita. Terdiri dari 720 orang di Kabupaten Mamuju dan 390 orang di Kabupaten Majene.

Baca Juga  Lagi Kejati Sulbar Amankan Uang Sebesar Rp.2.2 Miliar dari Pemotongan Anggaran Dana DAK Fisik SMK Tahun 2020

“ISPA memang penyakit yang paling banyak. Di Mamuju tertinggi, begitu juga di Majene. Lima hari terakhir di Mamuju meningkat sebanyak 115 orang dan Majene meningkat 29 orang,” sebut Gaffar, pengelola data Bidang Data dan Informasi Pos Komando Transisi Darurat, Kamis (11/02/2021).

Data dari Dinas Kesehatan juga menyebutkan, untuk korban luka berat maupun ringan akibat gempa sebanyak 10.354 orang. Dengan rincian luka berat 378 orang, terdiri dari 209 orang di Kabupaten Mamuju dan 69 orang di Kabupaten Majene. Sementara Luka ringan tercatat 10.076 orang. Yakni 7.349 orang luka ringan di Kabupaten Mamuju dan 2.727 di Kabupaten Majene. Sementara korban meninggal dunia sebanyak 106 orang. 96 di Mamuju dan 10 di Majene.

Baca Juga  ABM : Terimakasih PLN

Selain ISPA, penyakit dominan yang menyerang pengungsi yakni hipertensi, penyakit kulit, diare, demam tulang, influenza, maag , nyeri otot, gangguan pencernaan, sakit kepala, demam, penyakit kulit dan batuk.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Sulbar, dr. Ihwan memaparkan, ISPA memang selalu menjadi penyakit dengan jumlah tertinggi. Meskipun dalam keadaan biasa atau normal.

“Jumlahnya meningkat di pengungsian itu karena faktor kecapeaan. Apalagi dalam musim panca roba seperti sekarang. Dalam arti hujan lalu panas, kemudian hujan lagi,” kata Ikhwan.

Baca Juga  Bagai Gayung Bersambut, Curhat Bupati Mendapat Respon Kepala Balai

Banyaknya warga terserang ISPA di pengungsian, lanjut Ikhwan, sangat berpotensi meningkatkan penyebaran Covid-19. Apalagi, semenjak setelah gempa, disiplin warga di pengungsian semakin berkurang. Interaksi juga semakin dekat dan bahkan makin sering berkerumun.

Hal itu ditambah dengan banyaknya orang atau relawan ke Sulbar yang sangat terbuka untuk menjadi kanal dalam penyeberan covid.

(*)

Komentar

News Feed