oleh

Berpuluh Tahun Harapan, Kini Jalan Poros Keppe-Matangnga Dibeton

SULBAR.SIBERINDO.CO – Jalan tidak sekadar membentang di antara dua wilayah. Ia adalah urat nadi yang mempertemukan manusia, menghubungkan pusat-pusat kehidupan, sekaligus menjadi penanda bahwa keterisolasian bukanlah sesuatu yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Harapan itu kini kembali menemukan jalannya di Poros Matangga–Keppe, ruas jalan Provinsi Sulawesi Barat yang menghubungkan Kabupaten Mamasa dan Kabupaten Polewali Mandar. Setelah sekian lama menjadi lintasan masyarakat dengan kondisi yang belum memadai, ruas tersebut mulai mendapat penanganan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

Penanganan dilakukan pada sejumlah titik melalui pekerjaan betonisasi. Meski belum menyentuh seluruh badan jalan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki akses yang selama ini menjadi salah satu jalur penting bagi mobilitas masyarakat di wilayah perbatasan antarkabupaten.

Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Barat, Sopater, mengatakan terdapat tiga titik yang direncanakan mendapat pekerjaan beton, masing-masing sepanjang satu kilometer.

Hal itu disampaikan Sopater kepada media ini saat ditemui di Desa Saluahok, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sabtu, (3/10/2026).

Baca Juga  10 Tahun Buron, DPO Kasus Pembobolan Bank Sulselbar Rp 41 M Ditangkap

Menurut Sopater, salah satu titik berada di Desa Saluahok. Pekerjaan akan dilanjutkan dari ujung beton yang telah tersedia sebelumnya dengan panjang sekitar satu kilometer. Titik berikutnya berada di Desa Botteng.

Sementara ruas antara Keppe’ dan Saluahok juga akan mendapat penanganan melalui pekerjaan beton sepanjang satu kilometer.

“Ada tiga titik itu yang mau dibeton nanti,” kata Sopater. Namun, betonisasi tersebut belum berarti seluruh Poros Matangga–Keppe akan langsung berubah menjadi ruas jalan yang permanen. Untuk bagian jalan lainnya yang mengarah hingga tembus ke Matangga, Kabupaten Polewali Mandar, penanganan sementara dilakukan melalui pengerasan.

“Untuk pekerjaan jalan lainnya hingga tembus Matangga Kabupaten Polewali Mandar, hanya pengerasan saja,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan anggaran
pembangunan infrastruktur pada dasarnya selalu berhadapan dengan dua kenyataan: kebutuhan yang terus bertambah dan kemampuan anggaran yang terbatas. Kondisi serupa juga menjadi pertimbangan dalam penanganan poros Matangga–Keppe.

Baca Juga  Benahi Jaringan Listrik, Pria di Polman Tewas Kesetrum

Sopater menjelaskan, pekerjaan dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan anggaran yang tersedia. Dengan keterbatasan tersebut, UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas PU Provinsi Sulawesi Barat memilih melaksanakan pekerjaan secara langsung.

Menurut dia, pilihan tersebut diambil agar anggaran yang terbatas dapat dimanfaatkan seefektif mungkin untuk kebutuhan pekerjaan di lapangan.

“Itulah sebabnya (kami) langsung PU yang turun karena kalau di-sup atau orang lain yang kerja pasti mau juga untung, sementara anggaran terbatas,” jelasnya.

Hingga kini, Sopater belum memerinci besaran anggaran yang dialokasikan untuk penanganan ruas poros Matangga–Keppe tersebut.

Jalan dan Harapan yang Terus Menyambung

Bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur tersebut, jalan bukan semata-mata persoalan konstruksi. Di atasnya terdapat aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan sosial, hingga hubungan antarmasyarakat dari dua wilayah kabupaten.

Poros Matangga–Keppe menjadi salah satu akses yang mempertemukan wilayah Mamasa dengan Polewali Mandar. Setiap perbaikan pada ruas tersebut pada akhirnya bukan hanya menyentuh permukaan jalan, tetapi juga menyentuh denyut kehidupan masyarakat yang menggantungkan mobilitasnya pada jalur tersebut.

Baca Juga  Gubernur Sulbar Harap Napi Dibantu Kembangkan Karyanya

Tiga kilometer beton yang akan dikerjakan mungkin belum menjawab seluruh kebutuhan ruas hingga Matangga. Namun, setiap kilometer yang diperbaiki tetap memiliki arti di tengah perjalanan panjang menghadirkan akses yang lebih layak bagi masyarakat.

Sebab, pembangunan jalan pada hakikatnya bukan hanya tentang seberapa panjang beton yang dapat dibentangkan, melainkan tentang seberapa jauh sebuah kebijakan mampu membuka ruang gerak bagi masyarakat yang selama ini menunggu akses yang lebih baik.

Untuk sementara, perjalanan menuju Matangga masih akan berhadapan dengan bagian jalan yang hanya mendapat pengerasan. Tetapi dari tiga titik betonisasi yang mulai direncanakan, setidaknya terdapat satu pesan bahwa poros penghubung dua kabupaten itu tidak sepenuhnya dibiarkan berjalan sendiri.

Jalan itu sedang diperbaiki, sedikit demi sedikit. Dan dari setiap meter yang dibangun, tersimpan harapan agar jarak geografis tidak lagi menjadi batas bagi tumbuhnya kehidupan masyarakat di dua wilayah tersebut.

HAMSAH MAMASA

News Feed