oleh

Pagar Kantor Dinas PUPR Polman Dicorat Coret, Tuntut Kadis dan Kabid Dicopot

POLMAN– Puluhan massa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Dewan Pimpinan Cabang Polewali Mandar, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Polewali Mandar, Senin siang (15/11/202).

Dalam aksinya, mereka menuntut Kepala Dinas (Kadis) PUPR dan Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya dicopot dari jabatannya. Keduanya dianggap gagal mengatasi persoalan Banjir yang kerap terjadi di daerah ini, apalagi sejak musim penghujan.

Sebelum berdialog dengan Kadis PUPR Polewali Mandar, massa aksi terlebih dahulu menggelar orasi di halaman kantor yang berada Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Polewali,

Baca Juga  BKMT Sulbar Berbagi Paket Sembako Pasca Gempa Mamuju

Selain membentangkan spanduk sambil membakar ban bekas, dalam aksinya, massa aksi juga mencorat-coret pagar kantor Dinas PUPR Polewali Mandar, dengan sejumlah tulisan tuntutan.

“Tuntutan teman-teman berdasarkan aspirasi masyarakat yang ada di Manding dan Madatte. Bahwa ketika terjadi curah hujan yang cukup lama, sekitar 1 sampai 2 jam, itu air sudah tergenang sampai lutut, sehingga kami dari teman-teman permahi, hadir di tengah-tengah masyarakat,” ujar Koordinator Aksi, Burhanuddin, kepada wartawan, Senin (15/11/2021).

Buhanuddin mengungkapkan, Kadis dan Kabid pada Dinas PUPR teresebut layak dicopot, karena dianggap tidak mampu memberi solusi atas persoalan Banjir yang kerap dirasakan warga di pusat kota Kabupaten Polewali Mandar.

Baca Juga  Gubernur Serahkan Bantuan Korban Kebakaran Lembang-lembang

“Kami menilai, Kadis PU dan Kabid Cipta Karya itu sendiri tidak peka terhadap fenomena yang terjadi di Kabupaten Polewali Mandar. Karena kami sudah melihat, ini sudah jalan hampir satu tahun lebih, kami tidak melihat langkah-langkah yang dilakukan Kadis PU dan Kabid Cipta Karya itu sendiri,” tandasnya.

Menanggapi tuntutan massa aksi, pelaksana tugas Kadis PUPR Polewali Mandar, Husain Ismail berdalih, persoalan Banjir yang kerap terjadi di pusat kota Polewali Mandar, karena beberapa faktor.

“Sekarang kita tahu curah hujan cukup tinggi, sehingga daya tampung drainase tidak mampu menerima debit air akibat curah hujan cukup tinggi. Pada saat hujan ada beberapa titik terjadi genangan,” ungkapnya.

Baca Juga  Polres Majene Wujudkan Pemerintahan Bersih dan Bebas KKN

Ia juga menyebut, alih fungsi lahan juga menjadi pemicu sehingga daerah Kelurahan Madatte dan Kelurahan Pekkabata, kerap dilanda banjir.

“ Perlu kita ketahui, karena memang di kawasan Kelurahan Madatte dan Kelurahan Pekkabata ini, ada beberapa kawasan yang tadinya daerah resapan air, kini jadi daerah pemukiman. Ini mempengaruhi, pada saat terjadi hujan ada beberapa titik yang tergenang,” pungkas Husain. (thaya/red)

Editor: Sulaeman Rahman

Komentar

News Feed