BANDUNG- Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan penyebaran virus corona yang diberlakukan pemerintah sejak awal Juli, memaksa mahasiswa asal Sulawesi yang kuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN-SGD) Bandung, Jawa Barat, tidak pulang ke kampung halaman.
Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat mereka merayakan Hari Raya Idul Adha 1442 H, sekalipun jauh dari orang tua dan sanak keluarga. Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang untuk bersilaturrahim sesama mahasiswa perantauan.
“Kami tak pulang kampung, tapi tetap merayakan Idul Adha sebagai momentum mempererat tali silaturrahim sesama mahasiswa di perantauan,” kata Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Sulawesi (Pamase), Nur Asyikin, Selasa (20/07/2021).
Menurut mahasiswa semester enam Fakultas Ushuludin, jurusan Filsafat dan Aqidah Islam, ini Pamase adalah wadah bagi mahasiswa perantau dari Sulawesi di UIN Bandung.
“Di Pamase inilah kami bersilaturrahim sekaligus menjadi tempat menaruh rasa rindu kampung halaman,” ujar mahasiswa kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini.
Dewan Senior Pamase, Andi Muhammah Taufiq, mengungkapkan hal serupa. Meskipun rindu membuncah pulang ke kampung halaman tidak tertahankan, namun melalui Pamase mereka bisa menekan rindu kampung halaman tersebut melalui silaturrahim.
“Alhamdulillah kami bisa berlebaran bersama, sederhana tapi penuh makna. Ya, paling tidak kami bisa merasa senasib dan sependeritaan di kampung orang sebagai penuntut ilmu yang jauh dari kampung halaman,” kilah Muhammad Taufiq, yang sudah menyelesaikan studi strata satu Tasawuf Psikoterapi asal Kota Palopo, Sulawesi Selatan ini.
Sementara Muhammad Akzal Ramadhan, mahasiswa semester empat jurusan Aqidah dan Filsafat Islam asal Mamuju, Sulawesi Barat, menyebut di Pamase dirinya bisa bersosialisasi dan bertukar pikiran dengan rekan semahasiswanya dari seluruh penjuru Pulau Sulawesi.
“Bahkan, di luar kampus kami senantiasa bisa bercanda dengan banyolan dan cerita konyol sebagai pelipur lara jauh dari orang tua dan saudara-saudara di kampung halaman,” ucap mantan santri Ponpes Syech Hasan Yamani, Kabupaten Polewali Mandar, dan santri Ponpes As’adiyah, Sengkang, Kabupaten Wajo.
“Melalui momentum Idul Adha, ini kami serasa berada di kampung dan keluarga sendiri, sekalipun dirayakan di rumah kontrakan,” imbuh Akzal semringah. (sur/red)
Editor: Sulaeman Rahman











Komentar