oleh

Harga Kedelai Melonjak, Pedagang Tahu dan Tempe di Polman Resah

POLMAN– Kenaikan harga tahu dan tempe kembali terjadi pada sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Polewali Mandar, sulawesi Barat. Kenaikan dipicu melonjaknya harga kedelai bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe.

Jika sebelumnya, tujuh bungkus tempe dijual seharga Rp5.000, kini berkurang menjadi enam bungkus saja. Sementara itu, enam potong tahu yang dulunya dijual seharga Rp5.000, juga berkurang menjadi lima potong saja dengan ukuran lebih tipis.

“Sudah sebulan ada kenaikan, penyebabnya dari kedelai yang mahal,“ ujar pedagang tahu dan tempe, Tuti Hasanah, yang dikonfirmasi Paceko.com grup Siberindo.co saat berjualan di Pasar Marasa Wonomulyo, Kecamatan Wonomulyo, Jumat (04/06/2021).

Baca Juga  Gubernur Minta Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Longsor dan Gempa

Tuti mengaku, kenaikan harga membuatnya harus merugi. Apalagi, tidak sedikit warga yang kerap mempersoalkan kenaikan harga.

“Bagaimana yah, kita gini aja, sementara ini, karena kita ngikutin harga yang dulu, biar langganan tidak lari, tidak pergi. Masalah hasilnya, kita sabar saja dulu sementara, belinya 7 dijual 7 gak apa-apa, yang penting tidak lari. Kalau kita kasi naik, pembeli mengeluh, mereka tidak mau, kalau mahal dijualnya susah,“ bebernya sembari tersenyum.

Sementara itu, salah salah satu pengusaha tahu dan tempe, Hj Mufti, mengungkapkan lonjakan harga kedelai kali ini dirasakan paling lama dibanding tahun sebelumnya. Ia memperkirakan, kondisi ini dampak terjadinya pandemi virus corona.

Baca Juga  PERADI PROFESIONAL Hadir Bukan Sebagai Tandingan Tetapi Menjawab Tantangan Nyata Dunia Hukum Indonesia

“Ini paling tinggi (harga), paling lama (kenaikan), imbasnya karena corona-corona ini, “ ungkap Hj Mufti di tempat terpisah.

Ia juga mengatakan, lonjakan harga kedelai, membuatnya terpaksa mengurangi produksi tahu dan tempe, agar dapat terus bertahan.

“Produksi dikurangi, dulu pernah 1 ton per hari, sekarang hanya 3 sampai 5 kwintal saja perhari,“ tandas Hj Mufti, sembari memantau proses produksi tahu dan tempe, yang diakui telah digeluti sejak enam tahun terakhir.

Jika sebelumnya kedelai dibeli seharga Rp.8.000/kg, kini naik menjadi Rp11.000/kg. Kondisi serupa terjadi pada minyak curah, yang dulunya dihargai 1,6 juta rupiah untuk setiap drum, ikut naik menjadi 2,6 juta rupiah.

Baca Juga  Terekam Kamera Pengawas, Seorang Pemuda di Polman Menipu Kios Agen Bank

“Tidak apa-apa ada kenaikan andai saja daya beli masyarakat juga ikut meningkat. Sekarang harga naik, daya beli masyarakat malah semakin menurun, kita terpaksa memangkas produksi untuk mencegah kerugian,“ pungkas Mufti.

Baik pengusaha, pedagang maupun konsumen, sangat berharap pemerintah melakukan upaya menstabilkan harga kedelai. Agar, harga jual tahu dan tempe, yang merupakan salah satu kebutuhan utama warga dapat normal kembali. (thaya/sur)

Komentar

News Feed