POLMAN- Akses jalan utama menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah di Desa Paku, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ditutup puluhan warga menggunakan bambu serta memasang spanduk pengumuman penolakan sampah. Aksi dilakukan, lantaran keberadaan TPA Paku dianggap merugikan warga sekitar.
Keberadaan TPA yang mulai beroperasi sejak tahun 2011 tersebut, dianggap membawa petaka bagi kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan warga.
Dalam aksinya, warga menggelar orasi, mengecam pemerintah setempat, yang dianggap lalai dan tidak memperdulikan penderitaan warga karena dampak negatif yang ditimbulkan TPA.
“Dampak yang dirasakan, mulai pencemaran udara, air dan tanah, itu meresahkan, ini sangat meresahkan memang,“ kata salah seorang warga, Japar kepada Paceko.com grup Siberindo.co, Senin siang (31/05/2021).
Menurut dia, warga tetap konsisten menolak keberadaan TPA, yang juga dianggap telah over kapasitas.
“Kami konsisten untuk melakukan penutupan, penolakan TPA, karena kami sudah sangat belajar pada hari-hari sebelumnya, kita akan memproduksi pupuk, gas, tapi sampai hari ini tidak juga ada ditemukan di TPA, tidak ada sama sekali,“ terang Japar kesal.
Terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Polewali Mandar, HA Bebas Manggazali, mengakui adanya kekeliruan dalam pengelolaan sampah di TPA Paku.
“Untuk TPA yang di atas (TPA paku, red) memang penuh, pengelolannya tidak tepat,“ ungkap Bebas.
Bebas juga menyebut kendala teknis sehingga pengelolaan sampah di TPA Paku menjadi tidak maksimal.
“Ternyata alat berada di sana itu rusak, sehingga sampah membludak, baunya keluar, tidak sempat lagi ditimbun setelah dibuang,” terangnya.
Menurut dia, pihaknya telah berupaya maksimal untuk menyelesaikan persoalan sampah di TPA Paku.
“Solusi kita ini cukup bagus, cukup koperatif, dua kali saya kesini, begitu ketemu hari ini, besok ke Mamuju, karena ini kan bukan gawe kita, Balai yang punya tanggung jawab. Di Balai itu saya adakan pendekatan, buat pertemuan, Balai mengatakan akan dikerja,“ bebernya.
Di hadapan perwakilan warga, Bebas sempat menyinggung predikat piala Adipura yang pernah diraih Kabupaten Polewali Mandar.
“Kita ini minta maaf, seharusnya pada saat kita ingin meraih Adipura itu, bukan pialanya yang harus kita kejar, tapi bagaimana masyarakat bisa sadar akan hal itu. Jangan sampai piala Adipura menjadi adi pura-pura,“ tegas Bebas mengingatkan.
Berdasarkan pantauan wartawan, saat aksi penutupan jalan berlangsung, TPA Paku tampak sepi, tidak terlihat aktifitas apapun. Hanya terlihat beberapa warga yang berprofesi sebagai pemulung di TPA.
Areal penampungan sampah yang tersedia, juga terlihat nyaris penuh oleh gundukan sampah yang mulai menggunung. Sebagian limbah cair dari sampah, meluber ke jalan tidak masuk pada tempat pengolahan yang telah disediakan. (thaya/sur)











Komentar