Mamasa – Hampir setahun Covid-19 melanda Indonesia yang berimbas pada perekonomian. Tak hanya di kota-kota besar, dampak ekonomi pandemi Virsu Corona juga dirasakan hingga ke daerah.
Di Kabupaten Mamasa yang menjadi daerah destinasi wisata di Sulawesi Barat, sejumlah pengusaha hotel dan restoran terancam bangkrut akibat pandemi virus corona yang tak kunjung usai.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Mamasa, Agus Salim, mengatakan pengusaha hotel di daerah tersebut sangat kesulitan. Mereka menjerit menghadapi pandemi virus corona yang sudah berlangsung hampir setahun.
“Kalau ditanya kondisi kami, kami sangat terdampak luar biasa. Tentu sangat mengalami kerugian selama pandemi Covid-19 yang berlangsung sudah hampir setahun,” kata Agus Salim, Selasa (16/2).
Menurut dia, kondisi itu dirasakan semua pengusaha hotel dan restoran di Kabupaten Mamasa. Sejak Maret tahun lalu, khusus hotel dan penginapan di Mamasa hanya memiliki satu sampai dua tamu saja dalam sebulan. Padahal, sebelum COVID-19, hunian hotel di Mamasa rata-rata mencapai di atas 60 orang per bulannya.
“Karena sangat kesulitan lantaran tidak ada pemasukan, terpaksa 50 persen karyawan kami liburkan untuk sementara,” ujarnya.
Agus menambahkan, hingga saat ini belum ada hitungan pasti berapa kerugian yang dialami pengusaha hotel dan restoran di Mamasa selama pandemi virus corona.
Kondisi ini juga dibenarkan Kepala Bidang Industri Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa, Alfredi Toding. Menurutnya, industri pariwisata seperti hotel, restoran, dan travel agent selama masa pandemi corona sangat terpuruk, bahkan ada yang sudah mau gulung tikar.
Dikatakan, di tengah situasi sulit saat ini sangat dibutuhkan adaptasi, kolaborasi, dan inovasi untuk membantu dan membangkitkan sektor industri pariwisata.
“Inovasi ini harus dilakukan, namun secara bersama-sama dalam mendorong kebangkitan industri pariwisata yang merosot beberapa bulan terakhir,” harapnya. (*/cr6)
Sumber: kumparan.com











Komentar