oleh

Kisah Gadis Cilik, Enam Tahun Merawat Kedua Orang Tuanya Terbaring Sakit

Kisah Gadis Cilik, Enam Tahun Merawat Kedua Orang Tuanya Terbaring Sakit

Laporan: Thaya – Paceko.com (Grup Siberindo.co)

ANDAI saja Naurafati gadis cilik berusia 11 tahun, itu bukanlah anak yang sabar, mungkin kedua orang tuanya akan dibiarkan terlantar sakit tanpa perawatan. Anak seusia dia, tentu akan lebih dominan menghabiskan waktu bermain selepas sekolah.

Jika umumnya anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain dan belajar , sambil bermanja pada orang tua, tidak demikian Naurafati. Gadis kecil asal Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, ini harus menghabiskan hari-harinya merawat Hasan (50) sang ayah dan Erna (40) ibunya.

Sejak enam tahun ke belakang, Hasan yang dulu bekerja sebagai anak buah kapal, hanya dapat terbaring lemah di rumahnya karena menderita stroke. Sementara sang istri Erna, sudah hampir setahun sakit, lemas dan kerap sesak nafas. Erna sudah tidak sanggup lagi melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga.

Baca Juga  Pulihkan Ekonomi Nelayan Akibat Covid-19, Gubernur Sulbar Serahkan Bantuan Mesin

Karena itu, urusan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci dan membersihkan, menjadi tanggung jawab Naurafati, termasuk menyuapi dan membersihkan tubuh sang ayah yang kesulitan bergerak tanpa bantuan orang lain.

“Setiap hari, mulai membersihkan hingga memberi makan menjadi tugas saya. Bapak sakit stroke, hanya bisa baring dan duduk, sementara ibu tidak tau sakitnya apa, loyo saja terus,” kata Naurafati ketika diaambangi, Minggu (15/11/2020).

Kendati kerap merasa iri melihat teman-teman sebaya memiliki banyak waktu untuk bermain, gadis kecil kelas VI SD ini mengaku tidak bersedih. “Tidak apa-apa, saya senang bisa merawat bapak dan ibu, saya berharap mereka berdua bisa segera sembuh,” ungkap gadis cilik yang bercita-cita menjadi dokter tersebut.

Sebenarnya, Naurafati memiliki dua saudara, masing-masing Erwin (20) dan Wahyu (17). Namun, hampir setiap hari keduanya harus melaut, agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Olehnya itu, ketiga bersaudara ini bersepakat membagi tugas, membebankan tanggung jawab kepada Naurafati untuk merawat kedua orang tuanya, disaat saudaranya sedang melaut.

Baca Juga  Pasien Positif Covid-19 Puskesmas Campalagian Ditutup

Tanggung jawab yang dipikul Naurafati terasa lebih ringan, jika kedua saudaranya sudah di rumah atau telah kembali dari melaut.

“Anaknya tiga, satu perempuan dua laki-laki, yang laki-laki tidak sekolah, kerja di laut, kalau kakaknya melaut, yang jaga orang tuanya si kecil, semua dia yang urus,“ ungkap Sappe, salah seorang kerabat.

Sappe mengaku, sudah seringkali meminta Naurafati bersama kedua orang tua dan saudara untuk tinggal bersamanya, namun ditolak. “Mereka maunya tinggal di rumahnya sendiri, tidak mau kemana-mana,“ terangnya.

Sappe menjelaskan, sejak jatuh sakit, Erna enggan memeriksakan diri ke rumah sakit, lantaran merasa takut, apalagi sejak adanya pandemi virus corona.

Baca Juga  Nurnazila H Kalammor Bantu Petani Bawang Merah di Desa Renggeang, Polman

“Dia (Erna) tidak mau dibawah ke rumah sakit, katanya takut jangan sampai disangka corona, apalagi dia kerap sesak nafas,“ bebernya.

Kepala Desa Tonyaman Nursam mengungkapkan, Naurafati beserta kedua orang tua dan saudaranya, awalnya tinggal di daerah Ujung Lero, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

“Mereka warga pindahan dari Lero, beli lokasi di sini, dia bangun rumah di sini, dia memang sakit dari sana (Ujung Lero), makanya dia pindah agar dekat dengan saudaranya,“ terang Nursam.

Diakui Nursam, pihaknya telah berupaya memberikan bantuan, untuk meringankan beban Naurafati bersama kedua orang tua dan saudaranya. “Kami pemerintah desa sudah berusaha maksimal memberikan bantuan, termasuk memberikan bantuan sosial seperti BLT. Kami akan terus berupaya untuk memberikan bantuan,” tukasnya.

Baik Naurafati maupun kedua saudaranya berharap mendapat perhatian dan belas kasih. Terutama kesembuhan sang ayah dan ibu tercinta.(***)

Komentar

News Feed