oleh

Merawat Cerita di Balik Kuliner Mandar, Dosen Tiga Kampus Kolaborasi Susun Buku

SULBAR.SIBERINDO.CO – Kuliner bukan sekadar soal rasa. Di balik sepiring makanan tradisional tersimpan cerita tentang keluarga, tradisi, pengetahuan lokal, dan identitas sebuah masyarakat. Berangkat dari kesadaran tersebut, tiga dosen dari perguruan tinggi di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan berkolaborasi menyusun buku cerita kuliner Mandar.

Kolaborasi tersebut melibatkan Bulqia Masud dari STAIN Majene, Riska Mayangsari dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), dan Nuraliah dari IAIN Parepare. Ketiganya bertemu di Majene, Sulawesi Barat (Sulbar) pada Jumat (28/8/2026), untuk mengembangkan naskah buku yang mengangkat kuliner Mandar beserta cerita dan pengetahuan budaya yang mengiringinya.

Buku ini tidak diarahkan sekadar menjadi daftar makanan khas Mandar. Setiap kuliner akan ditempatkan dalam cerita yang lebih luas tentang kehidupan masyarakat. Bahan makanan, cara mengolah, cara menyajikan, hingga kebiasaan masyarakat dalam menikmati makanan menjadi bagian dari kisah yang ingin direkam.

Baca Juga  Sekjen Gerindra Perkenalkan Rahmat Mirzani Djausal sebagai Calon Gubernur Lampung 2024

Bagi masyarakat Mandar, makanan tradisional memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Ada makanan yang hadir dalam perayaan, ritual, pertemuan keluarga, maupun berbagai momentum sosial. Karena itu, cerita tentang makanan sekaligus menjadi cerita tentang manusia dan kebudayaan yang melahirkannya.

“Yang ingin kita dokumentasikan bukan hanya makanannya, tetapi juga cerita dan nilai yang ada di balik makanan tersebut,” ujar Bulqia Mas’ud selaku koordinator.

Baca Juga  Gubernur Suhardi Duka Cek Kesiapan Upacara 17 Agustus, Capai 80 Persen

Kolaborasi tiga perguruan tinggi tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Program ini menjadi ruang bagi para akademisi untuk ikut mendokumentasikan kekayaan budaya lokal dalam bentuk karya yang dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Di tengah perubahan zaman, berbagai kuliner tradisional menghadapi tantangan pewarisan. Sebagian pengetahuan tentang bahan, teknik pengolahan, maupun cerita yang menyertai makanan lebih banyak diwariskan secara lisan. Ketika generasi berganti, pengetahuan tersebut berpotensi semakin jarang dikenal.

Melalui buku ini, cerita-cerita tersebut ingin direkam dan diperkenalkan kembali, terutama kepada generasi muda. Kuliner ditempatkan sebagai pintu masuk untuk mengenal kebudayaan Mandar secara lebih dekat.

Baca Juga 

Setelah proses penulisan, penyuntingan, dan penyelesaian naskah rampung, buku cerita kuliner Mandar ini akan dipublikasikan dan didiseminasikan kepada masyarakat. Harapannya, buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi kebudayaan, tetapi juga menjadi cara sederhana untuk menjaga ingatan tentang Mandar melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

Dari dapur, meja makan, dan cerita yang diwariskan antargenerasi, kekayaan budaya Mandar kembali dituliskan agar tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus dikenal dan diceritakan kepada generasi berikutnya.

MAHYUDDIN MATANGNGA

News Feed