oleh

Gerak Cepat TNI AU Dibalik Bencana Gempa

Jakarta – Guncangan gempa membangunkan Kapten Adm Aswarman yang sedang terlelap di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Dia kaget melihat perabotan rumahnya berantakan. Tembok rumahnya juga retak.

Sementara suasana di luar rumah tak kalah mencekam. Deru kendaraan dan bunyi klakson yang lalu lalang memecah keheningan malam. Warga panik berhamburan menyelamatkan diri.

Malam itu, gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Kabupaten Majene, dan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Gempa terjadi pada Jumat dini hari, 15 Januari 2021 pukul 01.28 WIB.

Gempa tersebut nyaris membuat lumpuh Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulbar. Banyak bangunan dan infrastruktur rusak parah. Gempa juga menewaskan 105 jiwa dan memaksa ribuan orang mengungsi.

Baca Juga  Lima Orang Alami Luka Bakar Berat Akibat Kilang Minyak

Situasi yang nyaris sama dirasakan Aswarman saat gempa mengguncang Palu dan Donggala pada 28 September 2018 silam. Saat itu, pria yang menjabat sebagai Komandan Detasemen TNI AU Mamuju Lanud Sultan Hasanuddin itu juga berada di lokasi gempa.

Aswarman sudah paham betul bakal ada pesawat TNI AU segera mendarat membawa bantuan logistik. Dia lantas meminta izin istrinya untuk mengecek kesiapan landasan udara.

“Di otak saya itu sudah kaya pengalaman di Palu pada tempo hari. Saya bilang besok pasti sekitar jam 10 Wita pesawat angkatan udara pasti akan tiba,” katanya.

Baca Juga  Andi Ruskati : Rapatkan Barisan, Bersama Kita Bangkit !

Aswarman bersama istrinya Rusdanensi tinggal di Kompleks Bandara, Kecamatan Sinyonya Selatan, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Sementara ketiga anaknya, menetap di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selepas menunaikan salat subuh, Aswarman bergegas menuju Bandara Tampa Padang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Keadaan gelap gulita, Aswarman hanya mengandalkan sorot dari lampu mobil untuk penerang jalan. Jarak antara rumah dengan landasan pacu sekitar 300 meter.

Aswarman sibuk memeriksa kondisi landasan pacu bandara sambil membuat laporan untuk disampaikan kepada pimpinan.

“Pimpinan ingin melihat gambarnya. Sementara keadaan waktu itu masih gelap. Jadi ketika ada sedikit matahari baru saya ambil foto. Pimpinan tanya kondisi landasan bagaimana,” kata Aswarman.

Baca Juga  Kejaksaan di Sulbar Didesak Tangkap 9 Buron Rp41 M

Dia kemudian bergegas menuju ruang Air Traffic Control Tower (ATCT). Ternyata ruang kontrol tersebut rusak imbas dari guncangan gempa yang terjadi pada dini hari.

Aswarman berkoordinasi dengan pimpinan di Makassar. Dia memutar otak agar bisa membantu pesawat melakukan proses pendaratan meski tanpa peralatan di ruang kontrol.

Dia akhirnya memilih menggunakan radio darurat model HT yang mampu menjangkau radius 30 kilometer. Usaha berbuah manis. Pesawat mendarat dengan sempurna. (*/cr6)

sumber: liputan6.com

Komentar

News Feed