MAMUJU- Meskipun gempa berkekuatan 5,9 magnitudo di Majene, Sulawesi Barat, tidak berpotensi tsunami. Namun, warga tetap diliputi rasa takut. Mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Warga yang sempat terpantau Fakta79.net grup Siberindo.co, saat ini yang sedang berada di pengungsian adalah warga di Desa Taan, Kabupaten Mamuju, dan Desa Mekkatta Selatan, Kabupaten Majene.
“Meskipun kami sudah berupaya menenangkan, namun secara psikologis warga lebih merasa aman jika mengungsi,” ujar Kepala Desa Taan, Kecamatan Tapalang, Rahmat Kasim, Kamis malam (14/1/2021).
Ia mengatakan, kondisi psikis masyarakat pesisir ketika ada gempa akan selalu dihantui akan disertai terjadinya tsunami.
“Ini yang ada di pikiran mereka, meskipun usai gempa pemerintah melalui BMKG mengumumkan tidak berpotensi tsunami,” tutur Rahmat.
Rahmat menambahkan, di desa yang berbatasan dengan Desa Maliaya, Kecamatan Malunda, itu memang beberapa rumah warga yang rusak karena getaran gempa.
Kerusakan tempat tinggal warga, menurut Mahyuddin, Kepala Dusun Tajimane, memang ada puluhan. Malah ada yang rubuh.
“Kalau di dusun kami tidak kurang dari 10 rumah yang rusak,” terang Mahyuddin. Sementara pengungsian warga di Tajimane tidak bisa dihindari.
“Warga sebagian besar mengungsi ke rumah-rumah kebun mereka yang ada di ketinggian, ada pula yang menumpang di rumah keluarganya,” terang Mahyuddin.
Soal pengungsian beberapa saat setelah gempa, juga terjadi di Desa Mekkatta Selatan, Kabupaten Majene. Rata-rata warga ketakutan akan terjadi tsunami.
“Kondisi seperti ini memang meresahkan, tapi untuk melarang masyarakat mengungsi tidak gampang,” kata Suaib, warga Tanisi, Mekkatta Selatan.
Karena itu, baik Rahmat Kasim, Mahyuddin, maupun Suaib, meminta agar kondisi warga di pengungsian hendaknya mendapat perhatian pemerintah secepatnya. Jangan dibiarkan berlarut-larut. (sur/red)











Komentar