SULBAR.SIBERINDO.CO – Nur Ilahi itu ada pada diri Baginda Muhammad. Nur itu kemudian kita kenali lewat pengetahuan dalam agama sebagai risalah yang terdokumentasi utuh dalam Kitab Suci: mukjizat terbesar Rasulullah. Tepat bulan Ramadhan, awal paruh pertama abad VII atau 610 M, Nabi Muhammad Saw menerima Wahyu dari Allah Swt melalui perantaraan Malaikat Jibril. Allah memerintahkan Jibril turun ke bumi — di sebuah gua di Mekkah — untuk menemui Muhammad, sekaligus tonggak awal kenabian Baginda, dan menuntun Kekasih Allah itu mengucapkan Iqra: Bacalah. Itulah wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw sekaligus mengawali fase kenabian manusia suci utusan Allah kala itu.
Beratus-ratus tahun kemudiam, Iqra itu sampai jua ke Nusantara, dan di belantara kampung semisal di Mehalaan, Indonesia, percikan nur itu ikut dihantarkan oleh seorang personel polisi dari Polres Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Namanya Bribka Muhammad Nur Alam. Hari-harinya sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Mambi, wilayah binaan Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa.
Ia menyibak kelokan jalan Trans Nasional setelah keluar dari Kantor Polsek Mambi di Sendana. Di simpang tiga jalan di Desa Rantebulahan, saban hari hari Nur Alam menerabas jalan berbukit hingga sampai ke Botteng. Jauh, sekitar 15 kilometer dari titik start di kantor polsek.
Bukan soal jauh-dekat. Nur Alam paham makna seragam Bhayangkara yang dikenakannya. Ini panggilan Ibu Pertiwi, tugas dan pengabdian untuk masyarakat dan negerinya.
Saban hari Nur Alam memanfaatkan benar waktunya di tempat tugas, di Botteng yang jauh, sebuah kampung tua di balik punggung gunung menjulang. Jejeran rumah-rumah penduduk yang diakrabinya, para penghuninya tak ubahnya keluarga sendiri. Bagi Nur Alam, sukses dalam tugas sebagai seorang polisi bukan semata statistik kehadiran. Lebih dari itu, bahwa sejauh mana bisa menyelami hati dan ekspektasi warga binaan. Pendekatan humanis adalah salah satu tolok ukur keberhasilan tugas polisi.
Nur Alam lama mengamati anak-anak kecil di Botteng cukup banyak dan karena itu di waktu-waktu tertentu setiap hari ia mengajak dan mengajar baca Al-Qur’an. Kalimat sederhananya mengajar mengaji. Nur Alam bawa Qur’an dan anak-anak pria dan wanita berkumpul di Masjid. Nur Alam duduk di tengah menuntun bacaan isi Qur’an untuk setiap anak didiknya itu.
Kegiatan mengajar mengaji ini baru berbilang bulan. “Belum lama, baru jalan tiga bulan (ngajar ngaji),” kata Bripka Nur Alam, Sabtu, (29/8/2026).
Polisi Alam tahu bahwa anak-anak Botteng sebenarnya sejak lama ingin rutin baca Qur’an, sayangnya tak ada guru pembimbing. Jika pun sebelumnya mengaji itu dilakukan oleh Mahasiswa Botteng yang sedang pulang kampung mengisi liburan kuliah. Setelahnya sepi lagi, nganggur lagi. Tak ngaji lagi.
Lalu cahaya kebaikan itu disambung rutin polisi Nur Alam.
“Guru ngajinya terbatas, ada beberapa mahasiswa, tapi kalau mereka sudah aktif lagi kuliah di kota, tidak ada lagi yang ajar mengaji. Sementara para orang tua mereka sibuk di kebun,” ujar polisi Alam.
Mengajar mengaji 45 orang anak-anak Botteng yang tersebar di lima dusun tentu bukan perkara gampang. Diperlukan dedikasi yang kuat bagi seorang pengajar, dan Alam bertagan kuat. “Ini panggilan nurani,” katanya, membatin.
Dari 45 anak didiknya, Alam bagi waktu dan tempat yang berbeda, setiap kelas 8 s.d. 10 anak saja. Setelah ditentukan demikian, Alam lalu menggeliat di atas sadel motornya: sambangi secara bergantian di setiap dusun yang ada di Desa Botteng.
Nur Alam kuat. Ia pernah ditempa di pondok pesantren di Kaballangan, Pinrang, Sulsel, belasan tahun silam. Memorinya tentang anak santri hendak ia tularkan kepada anak-anak kampung tempatnya mengabdi.
Cahaya alam Botteng kini diterangi lantunan Ayat Suci tidak pagi tidak petang. Polisi Nur Alam datang menyuburkan semangat dan potensi cahaya anak-anak itu kian menyinari alam Karunia TUHAN.
HAMSAH – SARMAN








