oleh

Kisah Lena, Wanita Perkasa Sang Pemecah Batu dari Polman

Laporan: Thaya

Editor: Sulaeman Rahman

MATAHARI bersinar cerah, menyinari salah satu lokasi penambangan batu di Kabupaten Polewali Mandar,Sulawesi Barat. Terlihat sejumlah warga sibuk mengumpulkan batu yang telah dipecahkan. Ada juga yang sedang berupaya memecahkan batu berukuran cukup besar.

Pekerjaan kasar dan berat ini, tidak hanya dilakukan kaum pria. Beratnya perjuangan memecah batu juga dilakoni para wanita, salah satunya Lena (44). Warga Kelurahan Darma, Kecamatan Polewali. Ia mengaku, sudah dua tahun menggantungkan hidup dari hasil memecah batu.

Pagi ini, Lena tampak santai berjalan dari rumahnya menuju lokasi penambangan batu. Ia mengenakan kaos hitam berlengan panjang, dengan topi lebar yang menutup kepalanya. Kedua tangannya menggenggam perkakas, linggis sepanjang satu meter dan palu dengan berat sepuluh kilogram.

Sesampainya di lokasi memecah batu yang berjarak puluhan meter dari rumahnya, Lena bergegas mengambil potongan karet ban bekas yang tergeletak di atas rerumputan. Potongan karet ban itu kemudian diselipkan di antara batu berukuran besar, lalu kemudian ia bakar.

“Batunya harus dibakar dulu, biar lebih mudah dipecahkan. Kalau tidak dibakar, susah pecah,“ kata Lena santai, Sabtu (10/07/2021).

Sambil menunggu proses pembakaran bongkahan batu selesai, Lena memilih mengumpulkan sisa-sisa batu yang telah dipecahkan sehari sebelumnya. Batu pecah disusun rapi, agar bisa segera diangkat saat ada pembeli.

Baca Juga  Jokowi Berencana Sapa Pemkab Majene Via Zoom Meeting pada Hari Anak

Saat mengumpulkan batu pecah, Lena harus memakai sarung tangan tebal. Tidak jarang ada batu yang masih menyimpan hawa panas akibat proses pembakaran, hingga melukai kulit.

Setelah selesai mengumpulkan batu pecah, Lena kembali memeriksa batu yang telah dibakar. Seluruh permukaan batu sudah tampak menghitam akibat proses pembakaran, pertanda batu siap dipecahkan menggunakan palu yang ia bawa sebelumnya.

Sekuat tenaga, Lena mulai mengayunkan palu dalam genggamannya, menghujam ke permukaan batu. Tidak hanya menimbulkan suara keras, tetapi juga serpihan batu yang pecah akibat kuatnya hantaman palu.

Saat memecahkan batu, Lena mengaku harus berhati-hati. Apalagi, terkadang ia harus merasakan sakit, lantaran hantaman palu justru mengenai kakinya. Tidak jarang pula, kakinya terjepit bongkahan batu berukuran besar, saat membongkar menggunakan linggis.

“Sering kena palu, sering kena linggis, sering terjepit batu. Meski sakit, kita mau bagaimana, karena kalau tidak kerja, kita mau makan apa,“ ujar ibu dua anak, ini sembari menunjukkan bekas luka pada tangan dan kakinya akibat hantaman palu.

Menurut Lena, pekerjaan memecah batu kerap dilakukan dari pagi sampai sore hari. Tergantung cuaca dan tenaganya pada saat itu.

Kendati diakui kepulan asap hitam tebal akibat proses pembakaran karet ban bekas, kerap menimbulkan rasa sesak dan perih di mata. Tidak lantas membuat Lena dan pemecah batu lainnya di tempat ini berhenti bekerja.

Baca Juga  Kesal Ibunya Dimarahi, Pria di Campalagian Parangi Pemuda Sekampungnya

Mereka terus memecah batu, walau harus bercucur keringat di bawah teriknya matahari, yang seolah mampu membakar kulitnya.

“Sesak, tapi mau bilang apa, kalau kita tidak kerja begitulah..kalau dilihat dari ini kayaknya tidak kuat, tapi kuat tidak kuat harus kuat demi makan, “ ungkap Lena sambil menyeka keringat di wajahnya.

Diakui Lena, batu yang dipecahnya dijual sekali dalam seminggu. Untuk satu truk batu berkapasitas empat kubik, dijual seharga 300 ribu rupiah. Namun demikian, pendapatan bersih yang diperoleh selama seminggu memecah batu tidak sebanyak itu. Masih harus dikurangi dengan biaya pembelian karet ban bekas, hingga setoran kepada pemilik lahan tempat mengumpulkan dan memecah batu.

“Bersihnya paling dapat 150 ribu. Karena masih harus keluar setoran kepada pemilik tanah sebesar 20 ribu rupiah per mobil, beli ban bekas seharga 25 sampai 30 ribu per ikat. Sedangkan untuk hasilkan satu mobil batu pecah, kita kadang harus beli ban bekas sebanyak empat ikat,“ bebernya.

Sebenarnya Lena masih memiliki suami yang membantunya mencari nafkah. Namanya Kuatno, usia 50 tahun. Sudah hampir setahun Kuatno mengadu nasib di ibu kota Jakarta.. Akibat pandemi Covid-19, penghasilan Kuatno menjadi tidak menentu.

Baca Juga  Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Majene Dilantik

Sebelum menjadi pemecah batu, Lena mengaku sempat menggantungkan hidup dengan menjadi buruh tani. Namun sayang, lagi-lagi karena pandemi Covid-19, membuatnya tidak leluasa bepergian, menjadi buruh tani dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Untungnya ada batu ini. Hasilnya memecah batu bisa buat beli beras, coba kalau tidak ada batu ini, kita mau makan apa?” tutur Lena menghela nafas.

Walau pendapatan yang diperoleh dari hasil memecah batu terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Lena mengaku tetap bersyukur.

“Cukup tidak cukup ya kita cukupkan. Bagaimana caranya kita kelola uang, yang penting sudah beli beras itu sudah cukup. Kalau beras ada kita sudah tenang, kalau masalah ikan belakangan, yang penting sudah ada beras, itu yang utama,“ tandasnya sambil tersenyum.

Selain Lena, di lokasi masih ada wanita lainnya yang menggantungkan hidup dari hasil memecah batu. Beberapa diantaranya sudah berusia lanjut, bahkan ada yang sedang hamil tua.

Walau memecah batu bukanlah pekerjaan mudah, apalagi bagi wanita, mereka mengaku tetap bersyukur lantaran masih dapat berjuang demi menyambung hidup.

“Daripada kita kesana kemari, menunggu di rumah, mending kita pecahkan batu. Meski hasilnya sedikit, yang penting hasil keringat sendiri dan berkah juga buat kita,“ pungkas Lena bangga. (*)

Komentar

News Feed