oleh

Kisah Miris Keluarga Disabilitas, Hidup Sebagai Kuli Mengupas Kelapa

-Tak Berkategori

Kisah Miris Keluarga Disabilitas, Hidup Sebagai Kuli Mengupas Kelapa

Laporan: Thaya- Paceko.com (Grup Siberindo.com

HIDUP dengan keterbatasan fisik, bukan alasan untuk menyerah. Berbagai cara bisa dilakukan demi bertahan hidup.

Seperti yang ditunjukkan tiga kakak beradik penyandang disabilitas, Malla (51), Gode (48) dan Ombeng (31). Mereka Warga Dusun Sumael, Desa Segerang, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Malla dan Gode menderita kebutaan pada kedua matanya sejak dilahirkan. Sehari-hari, keduanya berjuang menyambung hidup dengan bekerja sebagai kuli pengupas kulit buah kelapa. Sedangkan, si bungsu Ombeng memilih menjadi buruh tani, sembari memelihara ternak kambing warga yang memberinya kepercayaan.

Saat wartawan Paceko.com berkunjung, ketiga kakak beradik ini sedang berkumpul di rumahnya. Rumah panggung semi permanen, yang sudah kelihatan lapuk, dan reot karena usia bangunan yang kian tak mampu mereka renovasi. Nyaris tidak ada barang berharga di rumah berukuran 7 x 9 meter ini. Tidak ada kursi untuk tamu, hanya ada beberapa lemari usang, serta perlengkapan dapur seadanya.

Ketiganya tampak sangat ramah menyambut kedatangan saya. Si bungsu Ombeng, tampak bahagia, terus tertawa sembari menyampaikan sambutan menggunakan bahasa isyarat.

Setelah berbincang beberapa saat, saya mencoba mengajak Malla dan Gode untuk menunjukkan kemampuannya mengupas kulit buah kelapa, kendati dengan kondisi kedua mata yang mengalami kebutaan.

Baca Juga  Hari Kedua Operasi Zebra Petugas Jaring 18 Pelanggar

Perlahan Malla dan Gode bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menapaki lantai rumah yang sudah lapuk, sembari mengambil alat kupas buah kelapa dari besi runcing dan tajam. Bagian bawahnya diberi penopang dari kayu.

Pelan tapi pasti, keduanya bergegas turun dari rumah, menapaki setiap anak tangga satu demi satu. Dibantu si bungsu Ombeng, puluhan buah kelapa dalam karung langsung dikeluarkan dari gudang di kolong rumah, untuk dikupas kulitnya.

“Sejak umur 17 tahun saya mulai bekerja sebagai pengupas kulit buah kelapa. Awalnya ragu dan takut, tapi setelah dipelajari akhirnya bisa,” kata Malla bersemangat, Sabtu (07/11/2020).

Walau sudah terbiasa dengan profesi sebagai pengupas kulit buah kelapa, sesekali Malla dan Gode terlihat bergerak hati-hati, saat mengupas kulit buah kelapa, agar tidak terluka.

“Soalnya pernah luka, tetapi kalau sudah diobati lanjut kerja lagi. Harus dipaksa, agar semua kelapa bisa dikupas tepat waktu,” ujar Malla menghelas nafas.

Malla menjelaskan dalam sehari dia bersama Gode, mampu mengupas 300 buah kelapa, dengan upah 100 rupiah per buah. “Biasa dalam sehari dapat 25 sampai 30 ribu rupiah, tergantung kondisi kelapa, karena biasanya ada yang kulitnya keras,” ungkapnya.

Diakui Malla, aktifitas mengupas kulit buah kelapa biasanya dilakukan tiga kali dalam seminggu, dan berkelompok bersama warga lainnya

Baca Juga  Pembangunan Jalan Poros Mapilli-Piriang Ditarget Rampung 2021

“Kalau kupas kelapa itu tidak setiap hari, biasa tiga kali seminggu. Kita ikut sama warga lainnya. Makanya upah mengupas kulit buah kelapa, sebahagian disisihkan untuk membeli bensin sepeda motor warga, yang membawa kami ke lokasi mengupas buah kelapa,” terangnya.

Sementara itu, Gode mengaku untuk bertahan hidup mereka juga mengandalkan hasil panen tujuh pohon kelapa di depan rumahnya. “Kadang setiap tiga bulan sekali panen, hasilnya 100 biji dijual seharga empat ribu rupiah untuk seikat buah kelapa,” bebernya.

Gode yang terlihat memakai kaos oblong bergambar pasangan kandidat calon bupati dan wakil bupati, juga mengatakan, tidak jarang buah kelapa yang sengaja dikumpulkan di kolong rumah, justru hilang diambil orang.

“Biasa kecurian, kelapa yang ada di kolong rumah hilang, mungkin anak-anak yang ambil, soalnya kita juga tidak lihat,” mbuhnya sembari tertawa.

Kendati demikian, Gode mengaku bersyukur, lantaran masih ada tetangga yang berbaik hati, kerap memberikan bantuan bahan makanan kala sulit.

“Kalau menyangkut penghasilan itu tidak seberapa, tidak cukup, untung saja masih ada tetangga yang biasa membantu memberi makanan,” sebutnya dengan mata sedikit nanar. “Tapi, kami bersyukur,” ungkapnya.

Baca Juga  Asah Kemampuan, Komunitas Pencinta Tamiya di Polman Gelar Kompetisi

Kondisi yang dialami kakak beradik penderita disabilitas ini semakin memprihatinkan, setelah rumah reot peninggalan kedua orang tua mereka  yang telah lama meninggal, rusak parah dihantam angin kencang, Rabu sore (04/11/2020) lalu. Persitiwa tersebut mengakibatkan hampir seluruh atap rumah terlepas dan terbawa angin, dan guyuran air hujan membasahi seisi rumah.

“Saya sangat berharap, bantuan dari pemerintah dan seluruh masyarakat, untuk membantu memperbaiki rumah ini. Kami tidak ada kemampuan, jangankan untuk perbaiki rumah, kadang penghasilan sebagai pengupas kulit buah kelapa, tidak cukup untuk penuhi kebutuhan sehari-hari,” keluh Gode berharap.

Salah seorang warga, Budaria mengaku prihatin dengan kondisi yang dijalani kakak beradik penyandang disabilitas ini. Kendati kerap mengajak mereka untuk tinggal bersama, baik Malla, Gode maupun Ombeng. Namun, mereka selalu menolak.

“Kasihan sekali, selalu saya ajak untuk tinggal di rumah, tapi mereka tidak mau,” kata Budaria sembari menyeka air mata.

Kendati hidup dalam keterbatasan fisik, warga mengaku, Malla, Gode dan Ombeng adalah sosok yang peduli terhadap sesama. Mereka juga kerap meluangkan waktu, untuk memberikan bantuan tenaga bagi warga yang membutuhkan. Keterbatasan fisik tidak membuat mereka menjadi lemah, justru semakin kuat untuk menjalani beratnya hidup, walau dengan segala keterbatasan. (***)

Komentar