MAMUJU– Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo di Majene dan Mamuju pada Jumat (15/01/2021) lalu, menyisakan banyak masalah sosial sebagai efek. Antara lain, sebagian besar warga kini masih bertahan di pengungsian.
Meski sudah tiga pekan gempa berlalu, penyintas anak usia sekolah mengundang keprihatinan Kepala Sekolah MTs Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Abdul Wahab.
“Ini menjadi keprihatinan bagi kita semua. Anak didik yang sekolahnya terpaksa daring karena pandemi covid-19, terpaksa harus dijalani di pengungsian,” tutur Wahab, Ahad (07/02/2021), kepada Paceko.com grup Siberindo.co ketika menyambangi siswinya yang kini menjadi penyintas gempa di Mamuju.
Dia menyebutkan, sebenarnya dengan wabah yang terpaksa dijalani dengan belajar daring, siswa dan guru menjalani proses itu sangat tidak efektif.
“Nah, sekarang bencana gempa lagi. Ini menjadi hal yang patut dipikirkan bersama, siswa dan guru sama-sama menjadi penyintas. Ya, terutama di sebagian Mamuju dan sebagian Majene,” imbuh Wahab.
Prihatin dengan kondisi ini, seorang siswi MTs Lapeo yang kini jadi penyintas bencana gempa di Mamuju mendapat perhatian khusus Kepsek MTs Lapeo.
“Meski saya tidak sempat ketemu dengan siswi kami itu, namun santunan seadanya kami serahkan ke orang tuanya. Nilainya tidak seberapa, tetapi itulah wujud keprihatinan dan cinta sebagai wakil orang tuanya di dunia pendidikan,” ujar Wahab. (sur/red)











Komentar