oleh

Sawah Kering Ancaman Padi Tanpa Bulir, Rakyat Makan Apa?

SULBAR.SIBERINDO.CO – Hujan tak kunjung turun, tanah perlahan kehilangan kelembapannya. Di Rano, Desa Mehalaan Barat, Kecamatan Mehalaan, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, retakan tanah sawah akibat kekeringan tampak jelas sementara sawah itu sudah ditanami padi.

Sekitar delapan hektare sawah milik Kelompok Tani Rano Indah kini menghadapi kekeringan. Tanaman padi yang semestinya tumbuh menuju masa panen justru harus bertahan di tengah lahan yang mulai mengering.

Bagi petani, sawah bukan sekadar hamparan tanah. Di sanalah harapan tertanam kebutuhan keluarga, hasil panen sawah menjadi penopang kehidupan.

Namun, harapan itu kini kontras dengan kondisi nyata yang tak gampang dikendalikan. Ketua Kelompok Tani Rano Indah, Rusni, mengatakan kondisi persawahan mulai mengkhawatirkan karena tidak ada ketersediaan air untuk mengairi sawah.

Baca Juga  PT Pupuk Indonesia Luncurkan Program Customer Centric

Jika kemarau masih lama sementara tanaman padi sawah membutuhkan air hingga mendekati waktu panen, Rusni kuatir padi sawah miliknya, dan petani senasibnya, tidak akan menikmati hasil sawah musim ini.

Persoalan tidak berhenti pada tanaman padi. Kekeringan juga mulai dirasakan pada tanaman nilam yang selama ini menjadi salah satu sumber harapan ekonomi masyarakat, kuatir Rusni kepada media ini, pekan ini di Mehalaan.

Tanaman Nilam itu katanya, mulai kesulitan tumbuh akibat minimnya pasokan air. Tanaman kakao miliknya setali tiga uang. Kakao adalah salah satu tanaman keras dengan tingkat kebutuhan airnya banyak, termasuk pupuk.

Baca Juga  Pemprov Sulbar Cari Solusi Pendanaan untuk Kenaikan TPP PNS dan Gaji PPPK

Di tengah kondisi seperti ini petani hanya bisa berharap hujan kembali turun sebelum keadaan semakin memburuk.

Rusni berharap pemerintah terkait, dapat melihat secara langsung kondisi yang dihadapi masyarakat di wilayah Rano serta mengambil langkah penanganan yang diperlukan.

Menurutnya, perhatian dan intervensi pemerintah dibutuhkan sebelum kekeringan ini menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi petani.

“Kami berharap pemerintah memperhatikan kondisi kami. Jangan sampai tanaman yang menjadi sumber penghidupan masyarakat semuanya terdampak karena kekeringan,” harapnya.

Baca Juga  Kepala BPSDM Sulbar Serahkan Donasi APWI ke Widyaiswara Sulbar

Bagi Kelompok Tani Rano Indah, kemarau kali ini bukan sekadar tentang tanah sawah yang mengering, lebih jauh, ia menyentuh persoalan tentang bagaimana sebuah keluarga mempertahankan sumber penghidupan ketika alam tidak lagi memberikan cukup ruang bagi tanaman untuk tumbuh.

Di atas tanah yang mulai retak itu, petani masih menyimpan harapan yang sama: hujan turun, tanaman kembali tumbuh, dan hasil kerja selama berbulan-bulan tidak berakhir sia-sia.

Sebab bagi mereka, setiap bulir padi bukan hanya hasil dari tanah dan air, tetapi juga buah dari kesabaran, tenaga, dan harapan yang ditanam jauh sebelum musim panen tiba.

HAMSAH

News Feed