SULBAR.SIBERINDO.CO – Kekayaan budaya Persekutuan Adat Pitu Ulunna Salu (PUS) akan diupayakan hadir dalam film dokumenter pendek sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan pengenalan nilai-nilai adat kepada generasi muda. Gagasan ini dikembangkan oleh Mahyuddin, dosen IAIN Parepare sekaligus putra daerah Matangnga yang memiliki keterikatan historis dengan perjalanan Pitu Ulunna Salu.
Pitu Ulunna Salu, yang berarti “tujuh hulu sungai”, merupakan persekutuan masyarakat adat yang terbentuk dari tujuh wilayah adat di kawasan pegunungan Mamasa, Sulawesi Barat. PUS memiliki sejarah panjang dalam membangun hubungan sosial, menjaga solidaritas antarkelompok, serta mengembangkan berbagai aturan dan falsafah adat yang mengatur kehidupan masyarakat.
Gagasan pembuatan film dibahas dalam konsultasi bersama Ridwan Alimuddin pegiat literasi Mandar, di Majene, Sabtu (29/8/2026). Film ini direncanakan mulai dikembangkan pada awal 2027 dengan mengangkat sejarah PUS, falsafah adat, kehidupan masyarakat, serta kearifan ekologis yang diwariskan antargenerasi.
Film akan mengandalkan narasi sebagai alur utama dan diperkuat melalui wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh pemuda dan ilmuwan Sulawesi Barat. Berbagai perspektif tersebut diharapkan dapat memperkaya cerita sekaligus memberikan gambaran mengenai nilai-nilai PUS dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai putra Matangnga, salah satu wilayah yang memiliki keterkaitan dengan sejarah PUS, Mahyuddin melihat dokumentasi ini sebagai bagian dari tanggung jawab untuk merawat ingatan budaya. Falsafah adat dan kearifan lokal yang selama ini diwariskan melalui cerita dan praktik kehidupan masyarakat dinilai penting untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Ingatan tentang PUS selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan dan sebagian generasi muda bahkan mulai dilupakan. Ketika perubahan sosial membuat sebagian ingatan tersebut semakin jauh dari generasi muda, dokumentasi menjadi salah satu cara untuk menjaga agar pengetahuan dan nilai yang diwariskan tidak terputus” ungkap Mahyuddin.
Karena itu, film dokumenter ini diarahkan bukan sekadar untuk merekam masa lalu, tetapi menjadi bagian dari proses revitalisasi budaya. Revitalisasi dimaknai sebagai upaya menghadirkan kembali falsafah dan kearifan PUS dalam ruang kehidupan generasi sekarang, sehingga nilai-nilai tersebut dapat dipahami, dimaknai, dan diwariskan kembali dalam konteks zaman yang terus berubah
Film dokumenter pendek ini diharapkan menjadi salah satu bentuk pelestarian dan revitalisasi budaya Pitu Ulunna Salu, dengan menghadirkan kembali nilai-nilai adat dalam bentuk dokumentasi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hasil dokumentasi nantinya direncanakan untuk dipublikasikan melalui berbagai kanal digital agar dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda. Dengan demikian, cerita dan nilai-nilai Pitu Ulunna Salu tidak berhenti sebagai ingatan masa lalu, tetapi terus hidup dan dipahami dalam konteks kehidupan masa kini.
SARMAN SAHUDING










